RADARSUMATERA.COM/BINJAI
-Seleksi anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) untuk upacara 17 Agustus 2017 di tanah lapang merdeka Kota Binjai, diwarnai kekisruhan internal peserta Paskibraka karena diduga adanya larangan
memakai jilbab bagi peserta putri sehingga Jumat 28 juli 2017.
Kekisruhan itu berawal dibuatnya peraturan baru yang di sampaikan oleh Kabid kepemudaan Dispora Binjai
Saud Sinaga kepada peserta seleksi , yang menyatakan, meminta para siswi peserta seleksi paskibraka untuk melepaskan jilbab di saat hari H dan
apabila tidak mau melepaskan jilbab, maka disuruh membuat surat mengundurkan diri.
Salah seorang peserta seleksi ,Nazla siswi kelas 11 SMA Negeri 6 Binjai, menyatakan bahwa keberatan dengan keputusan dari salah seorang Kabid Dispora tersebut .
"Kami memiliki motivasi untuk bisa lolos dalam seleksi
ini, tapi kami berat kalau harus melepaskan jilbab, ada beberapa peserta dari perwakilan
sekolah sekolah di Binjai yang keberatan, kalau tidak
salah ada 4 sekolah yang keberatan dengan peraturan ini, Soalnya saya masih ingat
betul bahwa disurat edaran seleksi tersebut di poin 13 menyebut bahwa untuk
wanita boleh menggunakan jilbab sesuai keyakinannya, Bahkan kepala sekolah kami juga mendukung kami untuk bertahan dengan jilbab yang kami pakai ini ”ujarnya kepada radarsumatera.com.
Sementara itu , 5 peserta wanita dari 7 orang peserta sekolah MAN Binjai yang lulus seleksi paskibraka juga menolak
untuk melepaskan jilbab, Salah satu peserta seleksi Paskibraka siswi kelas 10 sekolah MAN Binjai yang tidak ingin disebut namanya saat
diwawancarai sangat kecewa dengan keputusan tersebut.
”Kalau memang tidak boleh pakai jilbab kenapa tidak dari seleksi
awal di bulan 5 kemarin diberitahukan sama kami bang ,Kenapa baru hari ini. kalau tidak mau membuka jilbab
malah disuruh mengundurkan diri , dan kami di beri waktu oleh pengurus Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Kota Binjai sampai hari senin tanggal 31 juli untuk membuat keputusan, mau membuka jilbab atau mengundurkan diri dari peserta paskibraka”Ungkapnya.
Menurutnya, jilbab dan pakaian yang menutup aurat adalah
masalah prinsip yang tidak bisa ditoleransi dengan dalih apapun. "Tidak
hanya kepala sekolah dan guru, bahkan orang tua kami pun pasti melarang jika
harus melepas jilbab dan mengenakan pakaian yang auratnya terbuka," tuturnya
menambahkan.
Oleh sebab itu, dia meminta kepada panitia untuk tidak
mempersoalkan masalah jilbab, karena bisa menimbulkan gejolak sosial di
masyarakat.
Menanggapi hal itu, Ketua Purna Paskibraka Indonesia (PPI)
Kota Binjai, Lukman hakim, Saat dikonfirmasi awak media ini mengatakan bahwa dia sudah mendengar keresahan peserta paskibraka tersebut,Namun keputusan tersebut belumlah final dan akan diputuskan hari senin besok, dan rencananya akan ada opsi bagi siswi yang memakai jilbab akan dirubah formasinya agar tampak indah dilapangan.
"Ketentuan masalah jilbab tersebut diputuskan hari senin besok bang, Jadi ada opsi yang ingin saya sampaikan nanti bahwa peserta yang memakai jilbab akan kita susun formasi agar tampak indah, dan rencana ini akan di diskusikan kepada semua pelatih pelatih sekolah senin besok"Ungkapnya.
(RS1)

Komentar
Posting Komentar