Radar Sumatera-Medan: Video Edy Rahmayadi mendapat doa dari beberapa pendeta viral di media sosial, terutama facebook dan grup WhatsApp. Video tersebut berdurasi 30 detik. Berdasarkan penelurusuran, para pendeta tergabung dalam Komunitas Pendeta Internasional Indonesia Sumatera Utara. Prosesi doa dan ramah tamah ini digelar di Mutiara Suara Nafiri Jalan KH. Wahid Hasyim Medan.
Menurut para pendeta, sosok mantan Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan
Darat (Pangkostrad) adalah figur yang tepat memimpin Sumut.
Bahkan,
Pendeta Eben Siagian mengatakan sosok Edy sesuai dalam firman Tuhan
yakni cerdas, beriman, dapat dipercaya dan tidak korupsi.
"Saya
melihat keempat kriteria yang disebutkan dalam firman Tuhan itu ada pada diri
pak Edy. Sebagai seorang pendeta menilai beliau layak menjadi Gubernur
Sumut. Ini peran kita berpartisipasi untuk pesta demokrasi 27 juni 2018
mendatang," ujar Eben.
Sementara
itu, tokoh masyarakat Kristen Sumut Jhony Pardede menceritakan
pengalamannya bersama Edy. Jhony
bahkan menyebut Edy pernah menyelamatkan dirinya saat masih berpangkat Mayor.
"Saya
pernah ditikam ketika masih berkonflik dengan keluarga saya. Darah mengucur,
saya diinjak-injak. Saat itu ada satu pria berpangkat Mayor, yang tidak seiman
menolong saya agar segera ditangani medis. Dan pria itu adalah beliau yang
hadir bersama kita ini, Edy Rahmayadi," Katanya disambut tepuk tangan
masyarakat yang hadir.
Dukungan
yang sama, juga disampaikan oleh rekan dan sahabat Edy yang beragama Kristen
Gandi Parapat. Ia menilai, semua kalangan perlu untuk membantu pasangan Eramas
ketika kelak diamanahkan memimpin Sumut.
"Pilgub
Sumut ini bukan memilih pemimpin suku atau agama. Pak Edy dan Pak Ijeck kita
lihat mampu membawa Sumut yang Bermartabat dengan mempersatukan beragam suku,
budaya dan agama di Sumut. Untuk itu tugas kita berbuat untuk memenangkan
Eramas," ucapnya.
Kedekatan dengan tokoh agama, seperti para pendeta sudah sejak lama dibuktikan
Edy Rahmayadi. Hal ini ditegaskan Krisyanto Pasaribu yang merupakan teman SMA
Edy Rahmayadi. Bahkan Yanto yang beragama Kristen mengakui kalau kedekatan
mereka tidak hanya di Sekolah tetapi juga di rumah.
"Dari
dulu kami berteman tidak ada mempersoalkan agama. Kami saling menghargai dan
menghormati. Saya main kerumah beliau, beliau main kerumah saya. Inilah
persahabatan yang tidak terpisahkan hanya karena hanya beda agama,"
ucapnya.
Yantoni
mengungkapkan, saat mantan Pangdam I BB tersebut bertugas beberapa waktu lalu,
Edy senantiasa menjaga keharmonisan Sumatera Utara. Seperti mengundang tokoh
agama termasuk para pendeta untuk berdiskusi.
"Saya
masih ingat bahwa Pak Edy bercita-cita menjadikan Sumut, khususnya Kota Meda
menjadi Ikon religi seperti dibangunnya Gereja dan Masjid yang megah termasuk
juga rumah ibadah lainnya,"ujar Yanto sembari mengatakan banyak
keberhasilan Edy Rahmayadi saat menjadi Pangdam diantaranya membongkar sindikat
pupuk palsu, minyak, dan juga perjudian.
Sementara
itu Edy Rahmayadi, berharap bahwa masyarakat Sumatera Utara saling mengasihi,
dan tidak terkotak-kotak hanya karena perbedaan suku dan agama. Bahkan
seharusnya dengan keberagaman budaya, adat istiadat dan agama menurut Edy
seharusnya menjadikan Sumut semakin kuat.
Dalam
kesempatan tersebut, Edy juga mengajak masyarakat untuk bersama-sama membangun
Sumut untuk mengejar ketertinggalan Sumut di segala bidang dengan Provinsi
lain.
"Saya
ingin Sumut ini tidak ada orang yang bermental lemah dan mudah menyerah. Hanya
ada dua pilihan, menyerah gagal seperti pecundang atau berjuang seperti para
juara. Marilah kita hentikan pertikaian-pertikaian yang ada dan saling
menyayangi, bergandengan tangan untuk membangun Sumut yang kita cintai
ini," pungkasnya. (TMC/Sugandhi siagian)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar