Media Radar Sumatera

Tajam, Akurat dan Terpercaya

Full width home advertisement

Binjai


Post Page Advertisement [Top]

COVPID! (COMMUNITY OF VARIOUS PEOPLE IN BINJAI DISTRICT) Oleh : Ami Dania Rovi Simanjuntak

COVPID! (COMMUNITY OF VARIOUS PEOPLE IN BINJAI DISTRICT) Oleh : Ami Dania Rovi Simanjuntak

 

COVPID!

(COMMUNITY OF VARIOUS PEOPLE IN BINJAI DISTRICT) : MENJUNJUNG KEBERHASILAN PEMILU SESUAI PROTOKOL KESEHATAN DI KOTA BINJAI


Oleh :

Ami Dania Rovi Simajuntak
Kategori : Umum BINJAI
2020


_________________________________________________


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT karena atas karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan penyusunan karya tulis ilmiah ini. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW sampai akhir zaman.

Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada semua pihak yang telah mendukung penyusunan makalah ini, orang tua, keluarga, serta teman-teman semuanya.

Karya tulis ilmiah dengan judul “COVPID! (Community of Various People in Binjai District!): Menjunjung Keberhasilan Pemilu sesuai Protokol Kesehatan di Kota Binjai” ini disusun untuk mengikuti perlombaan karya tulis ilmiah yang diadakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Binjai. Semoga karya tulis ilmiah ini bermanfaat dan menambah wawasan keilmuan bagi pembaca dan menjadi amal baik bagi penulis. Semoga Allah SWT membalas segala kebaikan yang telah kita perbuat. Amin.



Binjai, 08 November 2020

Ami Dhania Rovi Simanjuntak

_________________________________________________


DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR .................................... ii

DAFTAR ISI .................................................. iii

DAFTAR GAMBAR ...................................... iv

ABSTRAK ...................................................... v


BAB I PENDAHULUAN .............................. 1

Latar Belakang ............................................ 1

Rumusan Masalah ..................................... 2

Tujuan ........................................................... 2

Manfaat ......................................................... 2


BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...................... 3

Corona Virus Disease-19 (COVID-19) ...... 3

Definisi ........................................................... 3

Etiologi ........................................................... 3

Patogenesis ................................................... 3

Faktor resiko dan pencegahan ................ 6

Diagnosis ....................................................... 7

Tata Laksana ................................................ 7

Konsep Deteksi Dini ................................... 8

Pemilu ............................................................ 9


BAB III METODOLOGI................................. 10

3.1 Diagram COVPID! .................................. 10


BAB IV PEMBAHASAN ................................ 11


BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ............ 12

Kesimpulan .................................................... 12

Saran ................................................................ 12


DAFTAR PUSTAKA .........................................13


________________________________________________


DAFTAR GAMBAR



Gambar 1 : Patogenesis COVID-19 ............ 4

Gambar 2 : Alur Tata Laksana ................... 8

Gambar 3 : Early Detection TB ...................8

Gambar 4: Konsep COVPID! ........................ 10


________________________________________________


BAB I

PENDAHULUAN


Corona Virus Disease-19 (Covid-19) merupakan penyakit yang ditemukan pada akhir Desember tahun 2019. Di awal tahun 2020, dunia digemparkan dengan merebaknya kasus coronavirus jenis baru (SARS-CoV-2) dengan nama penyakitnya Coronavirus disease 2019 (COVID-19).(Yuliana, 2020) Asal muasal virus ini diketahui berasal dari Wuhan, Tiongkok yang ditemukan pada akhir Desember. (Data WHO, 1 Maret 2020) (PSPI, 2020). Pada mulanya transmisi virus ini belum dapat ditentukan apakah dapat melalui manusia-manusia(Yuliana, 2020). Jumlah kasus terus bertambah seiring dengan waktu. Selain itu, terdapat kasus 15 petugas medis terinfeksi oleh salah satu pasien. Salah satu pasien tersebut dicurigai kasus “super spreader” (Channel News Asia, 2020). Akhirnya dikonfirmasi bahwa transmisi pneumonia ini dapat menular dari manusia-manusa (Relman, 2020). Berdasarkan Kementerian Kesehatan Indonesia, perkembangan kasus COVID-19 di Wuhan berawal pada tanggal 30 Desember 2019 dimana Wuhan Municipal Health Committee mengeluarkan pernyataan “urgent notice on the treatment of pneumonia of unknown cause” (Sayyidatul, dkk, 2020). Penyebaran virus Corona ini sangat cepat bahkan sampai ke lintas negara. Sampai saat ini terdapat 188 negara yang mengkorfirmasi terkena virus Corona (Silpa Hanoatubun, 2020). Semakin meningkatnya jumlah pasien yang diakibatkan COVID19 ini membuat pemerintah Indonesia mengeluarkan berbagai kebijakan untuk dapat menyelesaikan kasus COVID-19, salah satunya adalah dengan mensosialisasikan gerakan social distancing atau tagar dirumahaja . Hal ini dilakukan untuk dapat mengurangi bahkan memutus rantai infeksi COVID-19 dengan cara menjaga jarak aman dengan manusia lainnya minimal 2 meter, serta tidak melakukan kontak langsung dengan orang lain (Syeikha Nabilla Setiawan, Nunung Nurwati, 2020).

Penyebaran COVID-19 yang begitu pesat mengakibatkan rasa ketakutan pada diri masyarakat meskipun masih banyak diluar sana yang apatis dengan pandemik COVID-19. Akibat dari rasa takut yang ada menyebabkan masyarakat memiliki ketidakpedulian untuk memberikan suara pada pemilu yang akan datang.

Kita semua tahu bahwa pemilu akan diadakan dalam beberapa minggu kedepan. Pemilu tersebut diadakan untuk memilih kepala daerah yang ada di Kota

Binjai, meskipun nantinya banyak Kota yang akan melakukan pemilu serentak.

Oleh karena itu, berdasarkan latar belakang dan urgensi tersebut, penulis mengangkat sebuah gagasan inovatif yaitu COVPID! (Community of Various People in Binjai District): Menjunjung Keberhasilan Pemilu sesuai Protokol Kesehatan di Kota Binjai.


1.1 Rumusan Masalah

Rumusan masalah dari latar belakang diatas adalah:

  • Bagaimana peran COVPID! dalam menjunjung keberhasilan pemilu dengan memenuhi protokol kesehatan?
  • Bagaimana mekanisme COVPID! dalam menjunjung keberhasilan pemilu dengan memenuhi protokol kesehatan?


1.2 Tujuan

Tujuan karya tulis ilmiah ini adalah:

  • Menjalankan peran COVPID! dalam menjunjung keberhasilan pemilu dengan memenuhi protokol kesehatan.
  • Menjalankan mekanisme COVPID! dalam menjunjung keberhasilan pemilu dengan memenuhi protokol kesehatan.


1.3 Manfaat

  • Masyarakat

COVPID! berkontribusi pada keberhasilan pemilu dengan memenuhi protokol kesehatan dimasyarakat kota Binjai. COVPID! merupakan program yang mudah diaplikasikan di masyarakat karena memiliki tahapan sederhana.

  • Pemerintah

Melalui COVPID! diharapkan dapat berkontribusi pada upaya mencapai keberhasilan pemilu khusunya di Kota Binjai. COVPID juga diharapkan menjadi bagian dari solusi awal untuk mendeteksi kelalaian masyarakat dalam memenuhi aturan protokol kesehatan yang umumnya masih mendapat perhatian yang kecil di masyakarat.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Corona Virus Disease -19 (COVID-19)

2.1.1 Definisi

Corona Virus merupakan keluarga Coronaviridae, virus dengan untaian tung- gal, positive-sense RNA genome sekitar 26- 32 kb dan merupakan genom terbesar untuk virus RNA.


2.1.2 Etiologi

Istilah corona virus berdasarkan penampakan virion pada membran virus berbentuk taji-taji menyerupai mahkota atau dalam Bahasa latinnya adalah Corona. Virus Corona digolongkan dalam subfamily Coronavirinae, family Coronaviridae, order Nidovirales. Terdapat empat genera virus Corona yaitu Alphacoronavirus (αCoV), Betacoronavirus (βCoV), Deltacoronavirus (δCoV) dan Gammacoronavirus (γCoV). Analisis evolusi menyatakan kelelawar dan hewan pengerat merupakan sumber genetik sebagian besar αCoV dan βCoV sedangkan unggas merupakan sumber gen dari sebagian besar δCoV dan γCoV.

Corona virus yang menjadi etiologi COVID-19 termasuk dalam genus betacoronavirus. Hasil analisis filogenetik menunjukkan bahwa virus ini masuk dalam subgenus yang sama dengan coronavirus yang menyebabkan wabah Severe Acute Respiratory Illness (SARS) pada 2002-2004 silam, yaitu Sarbecovirus. Atas dasar ini, International Committee on Taxonomy of Viruses mengajukan nama SARS-CoV-2.


2.1.3 Patogenesis COVID-19

Patogenesis SARS-CoV-2 masih belum banyak diketahui, tetapi diduga tidak jauh berbeda dengan SARSCoV yang sudah lebih banyak diketahui.30 Pada manusia, SARS- CoV-2 terutama menginfeksi sel-sel pada saluran napas yang melapisi alveoli. SARS-CoV-2 akan berikatan dengan reseptor-reseptor dan membuat jalan masuk ke dalam sel. Glikoprotein yang terdapat pada envelope spike virus akan berikatan dengan reseptor selular berupa ACE2 pada SARS-CoV-2. Di dalam sel, SARS-CoV-2 melakukan duplikasi materi genetik dan mensintesis protein-protein yang dibutuhkan, kemudian membentuk virion baru yang muncul di permukaan sel. Sama dengan SARS-CoV, pada SARS-CoV-2 diduga  setelah  virus  masuk  ke  dalam  sel,  genom  RNA  virus  akan  dikeluarkan  kesitoplasma sel dan ditranslasikan menjadi dua poliprotein dan protein struktural. Selanjutnya, genom virus akan mulai untuk bereplikasi. Glikoprotein pada selubung virus yang baru terbentuk masuk ke dalam membran retikulum endoplasma atau Golgi sel. Terjadi pembentukan nukleokapsid yang tersusun dari genom RNA dan protein nukleokapsid. Partikel virus akan tumbuh ke dalam retikulum endoplasma dan Golgi sel.

Pada tahap akhir, vesikel yang mengandung partikel virus akan bergabung dengan membran plasma untuk melepaskan komponen virus yang baru. Pada SARS-CoV, Protein S dilaporkan sebagai determinan yang signifikan dalam masuknya virus ke dalam sel pejamu. Telah diketahui bahwa masuknya SARS-CoV ke dalam sel dimulai dengan fusi antara membran virus dengan plasma membran dari sel. Pada proses ini, protein S2’ berperan penting dalam proses pembelahan proteolitik yang memediasi terjadinya proses fusi membran. Selain fusi membran, terdapat juga clathrindependent dan clathrin- independent endocytosis yang memediasi masuknya SARS-CoV ke dalam sel pejamu. Faktor virus dan pejamu memiliki peran dalam infeksi SARS-CoV.  Efek sitopatik virus dan kemampuannya mengalahkan respons imun menentukan keparahan infeksi. Disregulasi sistem imun kemudian berperan dalam kerusakan jaringan pada infeksi SARS-CoV-2. Respons imun yang tidak adekuat menyebabkan replikasi virus dan kerusakan jaringan. Di sisi lain, respons imun yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan jaringan.

Gambar 1 : Patogenesis COVID-19

Respons imun yang disebabkan oleh SARS-CoV-2 juga belum sepenuhnya dapat dipahami, namun dapat dipelajari dari mekanisme yang ditemukan pada SARS-CoV dan MERS-CoV. Ketika virus masuk ke dalam sel, antigen virus akan dipresentasikan ke antigen presentation cells (APC). Presentasi antigen virus terutama bergantung pada molekul major histocompatibility complex (MHC) kelas I. Namun, MHC kelas II juga turut berkontribusi.30 Presentasi antigen selanjutnya menstimulasi respons imunitas  humoral dan selular tubuh yang dimediasi oleh sel T dan sel B yang spesifik terhadap virus. Pada respons imun humoral terbentuk IgM dan IgG terhadap SARS-CoV. IgM terhadap SAR-CoV hilang pada akhir minggu ke-12 dan IgG dapat bertahan jangka panjang.

Hasil penelitian terhadap pasien yang telah sembuh dari SARS menujukkan setelah 4 tahun dapat ditemukan sel T CD4+ dan CD8+ memori yang spesifik terhadap SARS-CoV, tetapi jumlahnya menurun secara bertahap tanpa adanya antigen. Virus memiliki mekanisme untuk menghindari respons imun pejamu. SARS-CoV dapat menginduksi produksi vesikel membran ganda yang tidak memiliki pattern recognition receptors (PRRs) dan bereplikasi dalam vesikel tersebut sehingga tidak dapat dikenali oleh pejamu. Jalur IFN-I juga diinhibisi oleh SARS-CoV dan MERS-CoV. Presentasi antigen juga terhambat pada infeksi akibat MERS-CoV.


2.1.3.1 Respons imun pada pejamu pada COVID-19 dengan klinis ringan

Respons imun yang terjadi pada pasien dengan manifestasi COVID-19 yang tidak berat tergambar dari sebuah laporan kasus di Australia. Pada pasien tersebut didapatkan peningkatan sel T CD38+HLA-DR+ (sel T teraktivasi), terutama sel T CD8 pada hari ke 7-9. Selain itu didapatkan peningkatan antibody secreting cells (ASCs) dan sel T helper folikuler di darah pada hari ke-7, tiga hari sebelum resolusi gejala. Peningkatan IgM/IgG SARS-CoV-2 secara progresif juga ditemukan dari hari ke-7 hingga hari ke-20. Perubahan imunologi tersebut bertahan hingga 7 hari setelah gejala beresolusi. Ditemukan pula penurunan monosit CD16+CD14+ dibandingkan kontrol sehat. Sel natural killer (NK) HLA-DR+CD3-CD56+ yang teraktivasi dan monocyte chemoattractant protein-1 (MCP-1; CCL2) juga ditemukan menurun, namun kadarnya sama dengan kontrol sehat. Pada pasien dengan manifestasi COVID-19 yang tidak berat ini tidak ditemukan peningkatan kemokin dan sitokin proinflamasi, meskipun pada saat bergejala.


2.1.3.2 Respons Imun pada Pejamu pada COVID-19 dengan Klinis Berat

Perbedaan profil imunologi antara kasus COVID-19 ringan dengan berat bisa dilihat dari suatu penelitian di China. Penelitian tersebut mendapatkan hitung limfosit yang lebih rendah, leukosit dan rasio neutrofil-limfosit yang lebih tinggi, serta persentase monosit, eosinofil, dan basofil yang lebih rendah pada kasus COVID-19 yang berat. Sitokin proinflamasi yaitu TNF-α, IL-1 dan IL-6 serta IL-8 dan penanda infeksi seperti prokalsitonin, ferritin dan C-reactive protein juga didapatkan lebih tinggi pada kasus dengan klinis berat. Sel T helper, T supresor, dan T regulator ditemukan menurun pada pasien COVID-19 dengan kadar T helper dan T regulator yang lebih rendah pada kasus berat.36 Laporan kasus lain pada pasien COVID-19 dengan ARDS juga menunjukkan penurunan limfosit T CD4 dan CD8. Limfosit CD4 dan CD8 tersebut berada dalam status hiperaktivasi yang ditandai dengan tingginya proporsi fraksi HLA-DR+CD38+. Limfosit T CD8 didapatkan mengandung granula sitotoksik dalam konsentrasi tinggi (31,6% positif perforin, 64,2% positif granulisin, dan 30,5% positif granulisin dan perforin). Selain itu ditemukan pula peningkatan konsentrasi Th17 CCR6+ yang proinflamasi.39 ARDS merupakan penyebab utama kematian pada pasien COVID-19.

Penyebab terjadinya ARDS pada infeksi SARS-CoV-2 adalah badai sitokin, yaitu respons inflamasi sistemik yang tidak terkontrol akibat pelepasan sitokin proinflamasi dalam jumlah besar ( IFN-α, IFN-γ, IL-1β, IL-2, IL-6, IL-7, IL-10 IL-12, IL-18, IL-33,

TNF-α, dan TGFβ) serta kemokin dalam jumlah besar (CCL2, CCL3, CCL5, CXCL8, CXCL9, dan CXCL10) seperti terlihat pada gambar 3.3, 30  Granulocyte-colony stimulating factor, interferon-γinducible protein 10, monocyte chemoattractant protein 1, dan macrophage inflammatory protein 1 alpha juga didapatkan peningkatan. Respons imun yang berlebihan ini dapat menyebabkan kerusakan paru dan fibrosis sehingga terjadi disabilitas fungsional.


2.1.4 Faktor Resiko & Pencegahan

Berdasarkan data yang sudah ada, penyakit komorbid hipertensi dan diabetes melitus, jenis kelamin laki-laki, dan perokok aktif merupakan faktor risiko dari infeksi SARS-CoV-2. Distribusi jenis kelamin yang lebih banyak pada laki-laki diduga terkait dengan prevalensi perokok aktif yang lebih tinggi. Pada perokok, hipertensi, dan diabetes melitus, diduga ada peningkatan ekspresi reseptor ACE2. Pasien kanker dan penyakit hati kronik lebih rentan terhadap infeksi SARS-CoV-2. Kanker diasosiasikan dengan reaksi imunosupresif, sitokin yang berlebihan, supresi induksi agen proinflamasi, dan gangguan maturasi sel dendritik.

Pasien dengan sirosis atau penyakit hati kronik juga mengalami penurunan respons imun, sehingga lebih mudah terjangkit COVID-19, dan dapat mengalami luaran yang lebih buruk. Studi Guan, dkk.49 menemukan bahwa dari 261 pasien COVID-19 yang memiliki komorbid, 10 pasien di antaranya adalah dengan kanker dan 23 pasien dengan hepatitis B. Infeksi saluran napas akut yang menyerang pasien HIV umumnya memiliki risiko mortalitas yang lebih besar dibanding pasien yang tidak HIV. Namun, hingga saat ini belum ada studi yang mengaitkan HIV dengan infeksi SARS-CoV-2.50 Hubungan infeksi SARS-CoV-2 dengan hipersensitivitas dan penyakit autoimun juga belum dilaporkan. Belum ada studi yang menghubungkan riwayat penyakit asma dengan kemungkinan terinfeksi SARS-CoV-2. Namun, studi meta-analisis yang dilakukan oleh Yang, dkk. Menunjukkan bahwa pasien COVID-19 dengan riwayat penyakit sistem respirasi akan cenderung memiliki manifestasi klinis yang lebih parah. Beberapa faktor risiko lain yang ditetapkan oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) adalah kontak erat, termasuk tinggal satu rumah dengan pasien COVID-19 dan riwayat perjalanan ke area terjangkit. Berada dalam satu lingkungan namun tidak kontak dekat (dalam radius 2 meter) dianggap sebagai risiko rendah. Tenaga medis merupakan salah satu populasi yang berisiko tinggi tertular.

Oleh karena itu, pencegahan akan faktor resiko sangat diperlukan seperti: menghindari kontak dekat dengan orang yang menderita infeksi pernapasan akut, sering mencuci tangan, terutama setelah kontak langsung dengan orang yang sakit atau lingkungannya, menghindari kontak tanpa perlindungan dengan peternakan atau  hewan liar, orang dengan gejala infeksi pernapasan akut harus menerapkan etika batuk (Atur jarak, batuk dan bersin dengan tisu atau pakaian sekali pakai, dan cuci tangan) dalam fasilitas layanan kesehatan, tingkatkan praktik pencegahan dan pengendalian infeksi standar di rumah sakit, terutama di unit gawat darurat.


2.1.5 Diagnosis

Definisi operasional pada kasus COVID-19 di Indonesia mengacu pada panduan yang ditetapkan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang mengadopsi dari WHO. Kasus probable didefinisikan sebagai PDP yang diperiksa untuk COVID-19 tetapi hasil inkonklusif atau seseorang dengan dengan hasil konfirmasi positif pancoronavirus atau betacoronavirus. Kasus terkonfirmasi adalah bila hasil pemeriksaan laboratorium positif COVID-19, apapun temuan klinisnya. Selain itu, dikenal juga istilah orang tanpa gejala (OTG), yaitu orang yang tidak memiliki gejala tetapi memiliki risiko tertular atau ada kontak erat dengan pasien COVID-19.

Kontak erat didefinisikan sebagai individu dengan kontak langsung secara fisik tanpa alat proteksi, berada dalam satu lingkungan (misalnya kantor, kelas, atau rumah), atau bercakap-cakap dalam radius 1 meter dengan pasien dalam pengawasan (kontak erat risiko rendah), probable atau konfirmasi (kontak erat risiko tinggi). Kontak yang dimaksud terjadi dalam 2 hari sebelum kasus timbul gejala hingga 14 hari setelah kasus timbul gejala. Song, dkk.87 mencoba membuat skor COVID-19 Early Warning Score (COVID-19 EWS) berdasarkan 1311 orang yang melakukan pemeriksaan SARS-CoV-2 RNA di China. Skor ini memasukkan gambaran pneumonia pada CT scan toraks, riwayat kontak erat, demam, gejala respiratorik bermakna, suhu tertinggi sebelum masuk rumah sakit, jenis kelamin laki-laki, usia, dan rasion neutrofil limfosit (RNL) sebagai parameter yang dinilai. Nilai skor COVID-19 EWS miminal 10 menunjukkan nilai prediksi yang baik untuk dugaan awal pasien COVID-19. Diagnosis komplikasi seperti ARDS, sepsis, dan syok sepsis pada pasien COVID-19 dapat ditegakkan menggunakan kriteria standar masing-masing yang sudah ditetapkan. Tidak terdapat standar khusus penegakan diagnosis ARDS, sepsis, dan syok sepsis pada pasien COVID-19.


2.1.6 Tata laksana

Saat ini belum tersedia rekomendasi tata laksana khusus pasien COVID-19, termasuk antivirus atau vaksin. Tata laksana yang dapat dilakukan adalah terapi simtomatik dan oksigen. Pada pasien gagal napas dapat dilakukan ventilasi mekanik. National Health Commission (NHC) China telah meneliti beberapa obat yang berpotensi mengatasi infeksi SARS-CoV-2, antara lain interferon alfa (IFN-α), lopinavir/ritonavir (LPV/r), ribavirin (RBV), klorokuin fosfat (CLQ/CQ), remdesvir dan umifenovir (arbidol). Selain itu, juga terdapat beberapa obat antivirus lainnya yang sedang dalam uji coba di tempat lain.


2.1.6.1 Alur tata laksana

Gambar 2 : Alur Tata Laksana


2.2 Konsep Deteksi Dini

Gambar 3 : Early Detection TB

https://www.who.int/tb/areas-of-work/laboratory/early-detection/en/


2.3 Pemilu

Pemilu adalah suatu proses untuk memilih orang-orang yang akan menduduki kursi pemerintahan yang dilakukan untuk mewujudkan negara yang demokrasi, dimana para pemimpinnya dipilih berdasarkan suara mayoritas terbanyak. Terlaksananya suatu pemilu dilandaskan dari suara rakyat. Walaupun setiap warga Indonesia mempunyai hak untuk bersuara, namun Undang-Undang Pemilu mengadakan pembatasan umur untuk dapat ikut serta didalam pemilihan umum yang mana pendaftar pemilihan umum harus sudah genap berumue 17 tahun.

Dalam pelaksanaanya, pemilu dilandaskan oleh asas-asas yaitu:

  • Langsung

Masyarakat sebagai pemilih memiliki hak untuk memilih secara langsung dalam pemilihan umum sesuai dengan keinginan diri sendiri tanpa ada perantara.

  • Umum

Pemilihan umum berlaku untuk seluruh warga negara yang memenuhi persyaratan, tanpa membeda-bedakan agama, suku, ras, jenis kelamin, golongan, pekerjaan, daerah, dan status sosial

  • Bebas

Seluruh warga yang memenuhi persyaratan sebagai pemilih bebas menentukan siapa saja yang akan dicoblos untuk membawa aspirasinya tanpa ada tekanan dan paksaan.

  • Rahasia

Dalam menentukan pilihannya, pemilih dijamin kerahasiaan pilihannya.

  • Jujur

Semua pihak yang terkait dengan pemilu harus bertindak dan juga bersikap jujur sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku

  • Adil

Setiap pemilih dan peserta pemilu mendapat perlakuan yang sama, serta bebas dari kecurangan pihak manapun.

_________________________________________________


BAB III

METODOLOGI


3.1 Diagram COVPID!

COVPID! memiliki 2 aktivitas utama yang dikenal sebagai “2D”, yaitu “Deteksi Dini” dan “Dampingi”. Gambar 4 menunjukkan konsep program COVPID.

Gambar 4. Konsep COVPID!


COVPID! merupakan program inovasi yang berupaya komunitas pengawasan yang berkontribusi dan menjunjung tinggi keberhasilan pemilu di Kota Binjai. Hal ini didasari oleh keadaan pandemik yang sedang berlangsung didunia mengakibatkan kewaspadaan untuk menghadapi keramaian serta harus mematuhi protokol kesehatan. COVPID! berharap dapat berperan penting dalam menjunjung keberhasilan pemilu Kota Binjai.

COVPID! memiliki dua aktivitas utama dalam kerjanya yaitu “2D”: Deteksi dini dan Dampingi. “Deteksi dini” merupakan kunci utama dalam kesehatan karena adanya konsep bahwa pencegahan itu lebih utama. “Dampingi” juga tidak kalah penting untuk keberhasilan dalam pemilu di Kota Binjai, karena ketakutan akan adanya pandemik COVID-19 menyebabkan keapatisan masyarakat untuk melakukan pemilu di Kota Binjai.

_________________________________________________


BAB IV PEMBAHASAN


Manfaat dari early detection sangat penting. Deteksi dini yang dilakukan sangat bermanfaat untuk mencegah penularan COVID-19 pada saat berlangsungnya pemilu di Kota Binjai. Tidak hanya itu, mekanisme yang dimiliki oleh COVPID! dengan menciptakan aktivitas “2D” (Deteksi dini dan Dampingi) merupakan mekanisme yang mudah diaplikasikan.

Aktivitas pertama yaitu “Deteksi dini” dilakukan dengan cara memeriksakan suhu tubuh masyarakat serta melakukan cek kelengkapan protokol kesehatan. Aktivitas ini akan dibuat lebih ketat agar tidak terjadi kelalaian yang dilakukan oleh masyrakat. Karena kita ketahui COVID-19 sangat berbahaya dan memiliki resiko penularan yang tinggi walaupun banyak isu tidak baik beredar dimasyarakat. Deteksi dini sebagai langkah awal dalam upaya mendeteksi kemungkinan risiko tersebut.

Aktivitas kedua yaitu “Dampingi” dilaksanakan dengan konsep KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi). Aktivitas ini dilakukan  dengan memberikan komunikasi, informasi dan edukasi kepada seluruh masyarakat baik seminggu sebelum pemilu maupun disaat pemilu. Target dari aktivitas ini adalah membuka jalan pikiran masyarakat untuk melakukan pemilu tanpa ada rasa takut akan pandemik COVID-19. Meskipun nantinya aktivitas ini membuka jalan pikiran masyarakat untuk meminimalisir ketakutan tetapi aktivitas ini nantinya menanamkan rasa tanggung jawab dengan cara mengedukasi masyarakat agar tetap menggunakan masker, mencuci tangan, serta membawa handsinitizer ataupun kelengkapan untuk melindungi diri.

Kedua aktivitas dari COVPID! Bermaksud untuk membantu jalannya pemilu di Kota Binjai. COVPID! Sendiri merupakan inisiasi dari masyarakat ataupun mahasiswa di Kota Binjai sehingga pemilu yang akan diadakan tetap berjalan dengan baik sesuai dengan protokol kesehatan. Banyak kemungkinan komunitas COVPID! tidak hanya dibentuk oleh Kota Binjai tetapi di daerah lain yang akan melakukan pemilu juga akan dibentuk.


BAB V KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan

  1. COVPID! memiliki dua kekuatan utama, yaitu 2D “Deteksi dini” dan “Dampingi”, keduanya merupakan langkah terbaik dalam upaya merubah pola pikir masyarakat terhadap pentingnya ikut serta dalam pemilu di Kota Binjai dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.
  2. COVPID! berkontribusi untuk menjunjung keberhasilan pemilu di Kota Binjai dalam keadaan pandemik COVID-19.


5.2 Saran

Aplikasi program COVPID! membutuhkan kerjasama dan dukungan berbagai pihak, seperti dukungan moril dan materiil, kemudahan dalam akses informasi dan data, akses pendanaan (realisasi program) serta dukungan masyakarat sebagai pilar utama keberhasilan program.

_________________________________________________


DAFTAR PUSTAKA


CNN. (2020). Relawan Covid-19: Indonesia Butuh 1.500 Dokter Tangani Corona. Retrieved from https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200326163444-20- 487215/relawan-covid-19-indonesia-butuh-1500-dokter-tangani-corona

Economic, M. (2020). Coronavirus and telemedicine: How it can help practices and patients with communicable diseases.

Retrieved from https://www.medicaleconomics.com/news/coronavirus-and- telemedicine-how-it-can-help-practices-and-patients-communicable-diseases

Health, J., Sinai, M., & Permanente, K. (2020). New england journal. 1–3.

Jahromi, A. H., Mazloom, S., & Ballard, D. H. (2020). What the European and American health care systems can learn from China COVID-19 epidemic ; action planning using purpose designed medical telecommunication , courier services , home-based quarantine , and COVID-19 walk-in centers. 6(2), 10–11. https://doi.org/10.34172/ipp.2020.17

Kementerian Kesehatan RI. (2020). Infeksi Emerging. Retrieved from https://infeksiemerging.kemkes.go.id/

Kementrian kesehatan. (2020). Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease (covid-19). 3, 1–116.

Nasari, F., & Darma, S. (2015). Penerapan K-Means Clustering Pada Data Penerimaan Mahasiswa Baru (pp. 6–8). pp. 6–8.

Penanganan covid-19 Protokol Pintu Masuk Wilayah Indonesia (bandara, pelabuhan, plbdn). (2020).

Sahin, A. R. (2020). 2019 Novel Coronavirus (COVID-19) Outbreak: A Review of the Current Literature. Eurasian Journal of Medical Investigation, 4(1), 1–7. https://doi.org/10.14744/ejmo.2020.12220

Sohrabi, C., Alsafi, Z., O’Neill, N., Khan, M., Kerwan, A., Al-Jabir, A., … Agha, R. (2020). World Health Organization declares global emergency: A review of  the 2019 novel coronavirus (COVID-19). International Journal of Surgery, 76(February), 71–76. https://doi.org/10.1016/j.ijsu.2020.02.034

World Health Organization. (2020). Coronavirus disease 2019 (COVID-19).

In Situation Report - 47. Retrieved from https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019

Worldometer. (2020). COVID-19 CORONAVIRUS PANDEMIC. Retrieved from https://www.worldometers.info/coronavirus/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]